Trabas Sidringo

Dieng Trail Adventure d-tac

Banjarnegara Backpacker

Blog yang mengulas sosial,budaya,pariwisata dan Potensi sumber daya Banjarnegara dan sekitar

Banjarnegara Backpacker

Blog yang mengulas sosial,budaya,pariwisata dan Potensi sumber daya Banjarnegara dan sekitar

Aerialshot Sidringo

Telaga Sidringo dari ketinggian saat turun kabut

Banjarnegara Backpacker

Blog yang mengulas sosial,budaya,pariwisata dan Potensi sumber daya Banjarnegara dan sekitar

Blogger Serayu dan Isinya

April 14, 2017 0

Blogger Serayu dan awak Media [dok. Blogger Serayu]


Minggu, 26 Maret 2017 saya ikut acara kumpul blogger Banjarnegara. Acara ini dimotori oleh blogger-blogger pro yang ingin menghidupkan  kembali komunitas blogger di Banjarnegara. tujuan dibentuknya komunitas ini adalah untuk menyatukan blogger-blogger di Banjarnegara yang selama ini bergerak sendiri-sendiri ke dalam satu wadah agar lebih optimal dalam membantu masyarakat Banjarnegara dalam mempromosikan potensi lokal seperti pariwisata dan UKM.

Acara ini dilaksanakan di resto "Cullinary Iwak" yang berlokasi di Gemuruh, Banjarnegara. pada awal acara, peserta yang hadir dipersilakan untuk memperkenalkan dirinya masing-masing kebetulan sebagian yang hadir dalam acara itu, saya sudah mengenalnya, seperti mas Hendi yang bareng saat acar famtrip blogger dari Dinbudpar, Mba Idah dan Mas Lutfi yang bareng juga saat acara kongres Gunung di pos pendakian gunung Slamet, Purbalingga. lalu kak Tri Mei yang merupakan guru di SMA saya 😂, terus Faiz teman sebangku dikelas 😂 dan juga Razin yang tinggal satu kosan, kalo mas Jujun sama mas Ipong sebenere  udah tau sejak lama, saya sering baca-baca artikel di blognya mas Jujun terusan sering juga nonton Vlognya mas Ipong yang kadang dishare temen-temen di Sosmed, tapi baru pernah ketemu sama orangnya waktu acara ini.

Setelah perkenalan satu-satu, acara dimulai dengan diskusi untuk penamaan komunitas ini dan setelah banyak usulan yang masuk, dipilihlah satu nama yaitu "Blogger Serayu" kemudian dilanjutkan dengan pembagian tugas handling akun sosmed, dan saya kebagian  megang akun Twitter @bloggerserayu dan kebagian jadwal update hari jumat sama sabtu. 

Ikan Bakar dari Culinary Iwak [dok. penulis]
Nggak lama kemudian, datanglah acara yang ditunggu... It's time for lunch 😂, menu kali ini adalah ikan bakar yang paling spesial dari  "Culinary  Iwak"  ini adalah kali kedua  saya makan menu  ini di Culinary Iwak, ikan bakar disini sangat fresh, sebab ikanya ngambil langsung dari kolam, juga tempatnya sangat pas untuk menikmati makanan yang kaya gini, hamparan sawah dan deretan pegunungan Serayu utara di sebelah utara resto menambah kenikmatan suasana saat menyantap menu disini. 
 konsep yang dipake  mas Fajar (Owner Culinary Iwak) juga sangat pas dan nyaman untuk nongkrong, kadang saya sama temen nongkrong disini sampe larut malam karena di culinary iwak ngga melulu cuma ada  menu olahan ikan tawar, tetapi disini juga ada Cafe, yaitu "Kopi Sabin" di kopi sabin ada banyak jenis Kopi mulai dari Arabica Ratamba, Arabica Babadan, Arabica  Kubang terus juga ada Robusta Leksana, Robusta Pletuk, hingga Robusta Kubang, yang ternyata  kopi tersebut  kebunya dekat dengan rumah saya, Wanayasa. yaitu Kopi Robusta/Arabica Kubang.

Sebenarnya, saya adalah pecandu kopi 😐 kalo di Kopi Sabin, sering memesan Kopi Tubruk tapi ngga tau itu Robusta/Arabica, dan juga ngga tau asal mula kopi tersebut karena saya bukan pecinta kopi, tetapi hanya pecandu kopi sachetan yang menurut saya lebih bisa dinikmat dan lebih bisa dirasakan 😂 
Menurut mas Danu, yaitu barista di "Kopi Sabin" Rasa setiap kopi itu berbeda-beda, hal itu disebabkan oleh banyak faktor, antara lain yaitu jenis kopinya, Ketinggian tempat penanamanya, cara pemanenan, karena kopi yang bagus adalah bijinya sudah masak dan berwarna merah, cara Roasting atau penyangrainya, dan juga penghalusan kopi, karena beda tekstur juga beda rasa.
Mas Danu sedang memberi sampel kopi dan menjelaskan seluk beluk tentang kopi Banjarnegara [dok.Penulis]
dan kopi yang paling fenomenal dari Banjarnegara adalah Kopi dari Ratamba, kopi Arabica ini sudah dikenal luas oleh pecinta kopi, tidak hanya di Banjarnegara tetapi juga di kabupaten tetangga seperti Wonosobo. Menurut teman saya, Mas Agus dari Wonosobo (Barista) yang bareng satu homestay pada acara Kongres Gunung di Purbalingga, Kopi Ratamba memiliki Rasa yang mirip dengan Kopi yang Ditanam di Lereng gunung Sindoro, hal ini sangat mungkin karena Ratamba kec. Pejawaran merupakan Dataran tinggi. 

Perkembangan Kopi di Banjarnegara juga bisa dibilang sedang naik daun dan juga sedang digencar-gencarkan oleh pemerintah untuk melakukan revolusi pertanian dan perkebunan di Banjarnegara, hal ini terbukti dengan upaya-upaya pemerintah untuk mengsosialisasikan penanaman tanaman yang dapat  mencegah erosi dan dapat menahan longsor, yang kebetulan di Banjarnegara Merupakan daerah rawan longsor dengan tanahnya yang labil. jika mengkaji ulang pada hasil observasi pada kegiatan ekspedisi serayu [kentang dan evolusi-pertanian Dieng] Kopi bisa menjadi jawaban dari permasalah yang ada di daerah Dataran Tinggi di Banjarnegara, selain dapat menyelamatkan lingkungan, kopi saat ini  memiliki daya jual yang lumayan tinggi, dan bukan tidak mungkin akan menggeser pertanian Kentang yang berkesan merusak lingkungan.

Selain dari pemerintah, perusahaan BUMN juga turut andil dalam perkembangan kopi di Banjarnegara, di Ratamba pernah dilaksanakan sosialisasi oleh para pecinta kopi yang dimotori oleh PT. Indonesia Power yaitu anak perusahaan dari PLN, tentang pengolahan Kopi yang baik dan benar agar memiliki kualitas dan daya jual tinggi. karena yang menjadi masalah pada petani lokal adalah cara pengolahan dan perlakuan petani terhadap kopi tersebut, misal, petani lokal memanen kopi greenbean yang masih sangat muda dan diolah dengan mencampurkanya dengan kopi yang masak (berwarna merah), dan juga cara penjemuran yang salah sehingga kopi berjamur dan tidak layak konsumsi, hal tersebut terjadi karena  minimnya pengetahuan petani akan komoditasnya.

Semoga Upaya Pemerintah, Rekan Blogger, dan juga Aktifis lainya dapat mendukung Banjarnegara dalam pengelolaan potensi lokal dan meningkatkan taraf hidup masyarakat di Banjarnegara. Havid Adhitama



Culinary Iwak dan Kopi Sabin
Gemuruh, Banjarnegara, Jawa Tengah
Buka Setiap hari mulai pukul 14.00 sampai dengan 23.00
IG: culinary_iwak
IG: kopisabin





\

Hantu-hantu Penghuni Serayu

April 07, 2017 0
AerialShoot Sungai Serayu [dok. tim Ekspedisi Serayu bid. Sosial Budaya]

Hantu-hantu Serayu
Masyarakat Jawa memiliki kekhususan dalam mengidentifikasi cerita mistis untuk senantiasa dihubungkan dengan keberadaan makhluk ghaib atau roh yang bergentayangan (baca: hantu/ memedi). Bahkan, masyarakat Jawa juga percaya hantu memiliki spesifikasi dan cara kerja yang terstruktur (Setiawan, dalam Suara Merdeka, edisi 2015: 22). Pun demikian dengan sungai Serayu, masyarakat yang tinggal di sepanjang DAS nya memiliki beragam pandangan tentang hantu-hantu di seputar Serayu.
Mulai di daerah hulu di Dieng, masyarakat di sana bahkan percaya bahwa Dieng dipenuhi dengan mahluk ghaib. Toha, juru kebersihan di Tuk Bima Lukar misalnya, ia meyakini bahwa ditempat ia bekerja terdapat hantu bernama Eyang Bima atau ia juga menyebutnya Pangeran Bima Naga. Bentuknya seperti naga, sehingga ia juga menyebutnya Tunggul Naga. Tak heran, jika di tempat itu, banyak orang yang bersemedi, berharap tuah dari penunnggu Tuk Bima Lukar.

Alm, Mbah Naryono  sedang melakukan ritual sebelum pemberangkatan tim ekspedisi Serayu di Tuk Bima Lukar [dok. tim eks. Serayu Sosbud]
Di daerah kecamatan Garung, Mintarja  juga meyakini bahwa Serayu, terutama di wilaayah pertemuan tiga sungai atau pethuk, ada hantu Serayu berupa ular besar ber jengger. Konon siapa saja yang melihat ular tersebut muncul, selang tiga hari kemudian akan menemui ajal.
Turun lagi di daerah dibawahnya, Desa Sitiharjo, Iskandar  juga meyakini jika sungai Serayu yang mengalir di bawahnya penuh hantu sundel bolong dan juga wewe. Juga ada ular yang jika lidahnya bercabang tiga, maka dipastikan ular tersebut adalah ular jadi-jadian.
Warga Desa Kalibeber, Surokhim juga memiliki keyakinan lain seputar hantu Serayu. Ia meyakini bahwa di Serayu ada mahluk ghaib bernama Nini Angga. Ia berwujud kepala perempuan dengan rambut panjang, dan jika kaki seorang pencari ikan sampai terikat rambutnya, maka pasti akan tenggelam dibawa arus sungai.

Di daerah perkotaan Banjarnegara, Syabil  juga meyakini bahwa di kedung Monteng Rejasa juga banyak penunggunya, sehingga banyak kejadian orang tenggelam di kedung tersebut.
Di Banyumas, menurut Profesor Sugeng Priyadi, hantu Serayu diyakini masyarakat dengan nama Wiangga. Wujud hantu tersebut berupa kepala manusia, yang sengaja melambaikan tangan seperti orang tenggelam meminta tolong, dalam rangka menarik dan menenggelamkan korbannya.
Lepas dari benar tidaknya keberadaan hantu-hantu Serayu, sebenarnya mitos tentang hantu dibuat masyarakat Jawa karena ketidakmampuan menganalogikan ilmu pengetahuan secara runtut, terperinci, terlebih ilmiah. Mereka hanya mampu mengetahui dan merasakan gejala tanpa mampu mengurai detail penjelasannya (Setiawan, ibid).

Menurut Wakil Bupati Banjarnegara Hadi Supeno, hantu sering kali dijadikan sebagai “tameng” pelestarian lingkungan oleh masyarakat masa lampau, sehingga menjadikan orang-oarang tidak berlaku sembarangan terhadap tempat-tempat tertentu. Hampir di semua belik (mata air) selalu terdapat pohon besar yang dikeramatkan. Sebenarnya mungkin itu dimaksudkan agara orang tidak menebang pepohonan besar sehingga kelestarian mata air terjaga. Namun rasionalitas orang sekarang secara membabi buta justru ingin mematahkan mitos-mitos keangkeran pohon-pohon besar dengan menebangnya. Hasilnya, kini semakin banyak mata air yang mati karena tidak ada lagi pohon besar yang menjadi penyimpan dan penyuplai air mata air.
 Narasumber: Heni Purwono (ketua tim sosbud. eks.serayu) Posted by Havid Adhitama

Elang Jawa Belum Punah

Januari 09, 2017 4

Elang jawa terpantau di atas sungai serayu [dok. tim ekspedisi serayu]

Setelah tim sosial budaya Ekspedisi Serayu  menghasilkan temuan mengejutkan tempat yang diduga sebagai bengkel kerja pembuatan candi Dieng,  tim biota sungai menemukan hal tak terduga. Elang Jawa (Nisaetus Bartelsi) yang banyak orang mengira telah punah, terlihat di atas aliran Serayu, bahkan terlihat di tiga tempat berbeda. 

Pada hari kedua dan ketiga ekspedisi, tim menjumpai elang Jawa terbang di atas aliran Serayu, tepatnya di aliran sungai Serayu yang meilntas di Desa Tambi, di atas aliran Curug Sikantong, serta di atas Curug Silembu Desa Maron Kecamatan Garung Kabupaten Wonosobo. 

Peneliti dari Magister Ilmu Lingkungan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Gunanto Eko Saputro meyakini bahwa apa yang dilihatnya adalah elang Jawa. Dari bentuk, warna dan ukurannya, itu elang Jawa, bukan bido. Karena bulunya hitam rata, tidak blirik layaknya Bido Menurut Organisasi Konservasi Dunia IUCN, elang jawa termasuk kategori endersered species, atau spesies yang terancam kepunahannya. Elang Jawa juga salah satu hewan yang dilindungi oleh Undang Undang. Karenanya temuan ini sungguh mengejutkan dan menggembirakan.

Elang jawa terpantau di atas sungai serayu [dok. tim ekspedisi serayu]
Elang Jawa biasanya tinggal di habitat pohon atau tebing-tebing yang tinggi. Kawasan aliran serayu di hulu sangat cocok sebagai habitat elang Jawa karena masih banyak tempat yang tak terjamah manusia. Di situlah biasanya elang Jawa tinggal. Oleh karena itu dengan temuan ini menggugah kesadaran masyarakat, pemerintah dan pihak terkait, agar menjaga lingkungan tempat dimana elang Jawa bisa hidup. Agar kelak anak cucu kita masih bisa melihat bagaimana wujud dari elang jawa  Narasumber: Heni Purwono [ketua tim sosbud eks. serayu] posted by: Havid Adhitama

Rencana Relokasi Korban Tanah Bergerak Desa Suwidak Kecamatan Wanayasa

Desember 21, 2016 0
Laporan Singkat Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Desa Suwidak, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah



 Rencana Relokasi :
Mengingat daerah bencana sangat rawan terhadap bencana gerakan tanah, maka pemerintah desa berenca memindahkan pemukiman (relokasi), ke RT 1/ RW 3, Dusun Buana, Desa Suwidak, Kecamatan Wanayasa,  secara geografi terletak pada koordinat : 7° 19' 10,024"LS dan 109° 44' 48,602"BT. Secara umum kondisi lahan relokasi sebagai berikut:

  • Luas tanah daerah rencana relokasi sekitar 0,9 Ha dengan tata guna lahan adalah persawahan dan merupakan tanah kas desa (bengkok kepala dusun).
  • Jarak dengan lokasi bencana sekitar 1,45 km, lokasi ini berdekatan dengan lokasi tempat relokasi lama yang pernah dilakukan Pemerintah Kabupaten.
  • Pencapaian lokasi sekarang dengan jalan tanah dan perkerasan (lebar  3 m)
  • Morfologi daerah calon relokasi berupa lereng datar - landai dengan kemiringan 0 - 50.
  • Batuan dasar penyusun daerah relokasi sama dengan daerah bencana berupa serpih, napal dan batupasir gampingan dengan kemiringan perlapisan batuan secara umum masuk ke dalam lereng. Hal ini relative menguntungkan terhadap gerakan tanah.
  • Tataguna lahan berupa  persawahan, di bagian utara merupakan pemakaman dan kebun salak dan kebun campuran dengan tanaman keras agak jarang.
  • Keairan daerah calon relokasi air permukaan sangat melimpah karena berdekatan dengan Sungai Merawu dan air tanah relative dangkal (< 4 m).
  • Dari hasil pengamatan lapangan di daerah tersebut tidak terdapat tanda-tanda terjadinya gerakan tanah baik gerakan tanah lama maupun baru, serta kemiringan lereng yang landai. Hal yang perlu antisipasi adalah pemukiman jangan terlalu dekat ke Sungai maupun alur lembah Sungai serta saluran drainase harus baik supaya tidak memicu terjadinya gerakan tanah. Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kabupaten Banjarnegara,  Provinsi Jawa Tengah (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), sekala 1 : 100.000, daerah rencana lahan relokasi termasuk ke dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah artinya daerah ini mempunyai tingkat kerentanan menengah untuk terjadi gerakan tanah.
  • Berdasarkan hasil penyelidikan lapangan daerah ini  cukup layak untuk dijadikan sebagai lahan relokasi dengan syarat :
  • Tidak melakukan pemotongan lereng dengan sudut lereng lebih besar dari 250 dengan tinggi lereng lebih dari 1,5 meter.
  • Perlu dibuat saluran kedap untuk air permukaan dan air limbah rumah tangga dan dialirkan ke kaki lereng (agar tidak meresap dan menjenuhi tanah)
  • Penanaman tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat berfungsi menahan lereng.
  •  


Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, dapat disimpulkan sebagai berikut:

Daerah bencana terletak pada daerah longsoran tipe rayapan lama dan dan aktive kembali karena curah hujuan yang tinggi. Sehingga masih berpotensi bergerak apabila dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama, sehingga masyarakat yang berada/tinggal di lokasi bencana agar selalu meningkatkan kewaspadaan terutama pada saat dan setelah hujan lebat yang berlangsung lama.
Rumah yang rusak berat dan terancam sebaiknya direlokasi ke tempat yang aman
Jika muncul retakan segera menutup retakan dengan tanah lempung yang dipadatkan agar air hujan tidak masuk/meresap dan menjenuhi tanah pada lereng.
Menanami lereng bagian atas dan tengah dengan tanaman keras berakar kuat dan dalam (tanaman tahunan) yang akarnya dapat mengikat tanah pada lereng.
Lokasi yang usulkan Pemerintah Desa untuk rencana relokasi adalah di RT 1/ RW 3, Dusun Buana, Desa Suwidak, Kecamatan Wanayasa aman dari potensi gerakan tanah namun disarankan, tidak membuat pemotongan lereng dengan sudut lereng lebih besar dari 400 dengan tinggi lereng lebih dari 1,5 meter, perlu dibuat saluran kedap untuk air permukaan dan air limbah rumah tangga dan dialirkan ke kaki lereng (agar tidak meresap dan menjenuhi tanah), penanaman tanaman keras berakar kuat dan dalam yang dapat berfungsi sebagai penguat  lereng, serta  pemukiman jangan terlalu dekat ke Sungai maupun alur lembah Sungai.

di adopsi dari Kementrian ESDM   oleh Havid Adhitama

Kentang dan Evolusi Komoditas Pertanian Dieng

Desember 07, 2016 0
Dieng Terus Alami Evolusi Komoditi Ekonomi 

dokumentasi tim ekspedisi Serayu

Jangan bayangkan komoditas pertanian kawasan Dieng saat ini sama dengan masa lampau. Jika kini hampir seluruh lahan ditanami petani dengan tanaman kentang, maka pada zaman lampau Dieng pernah beberapa kali mengalami evolusi komoditi. Dalam arsip-arsip kolonial, Dieng dikenal sebagai penghasil bunga pitrem. Sebelum tahun 1980-an, komoditas yang banyak dikembangkan di Kecamatan Batur dan Dieng Kulon Banjarnegara adalah bunga pitrem, ditambah tembakau, teh, bahkan ketumbar. 

Menurut sejarawan Banjarnegara dari Universitas Negeri Semarang Tsabit Adzinar Ahmad, kondisi itu berakhir dengan masuknya investor yang menanamkan modal dalam pertanian kentang. Tak hanya itu, keberadaan PT Dieng Jaya yang mengoperasikan pabrik jamur juga sejenak menjauhkan warga Dieng dari pertanian. Namun pada tahun 1990-an, pabrik jamur gulung tikar. “Evolusi komoditi tersebut mengubah pola kehidupan sosial ekonomi masyarakat Dieng Kulon. Termasuk dalam hal ini terjadi revolusi lingkungan yang berimbas pada rusaknya hutan juga terjadi pada tahun-tahun itu” jelas Tsabit.

Honger Odeem munculkan PKK
Hal tersebut dibenarkan oleh sesepuh Dieng Kulon Naryono (65). Pada masa komoditas pertanian di Dieng bunga pitrem, banyak terjadi honger odeem (busung lapar). “Waktu itu memang bayak sekali anak-anak yang busung lapar. Bahkan ketika bupati Banjarnegara berkunjung ke Dieng, beliau pingsan seketika melihat anak-anak Dieng busung lapar. Karena harga pitrem saat itu memang tidak seberapa. Baru ketika pabrik jamur Dieng Jaya mulai beroperasi, warga Dieng sudah mulai terbebas dari kelaparan. 

Meskipun menyedihkan, namun kisah hoger oodem manjadi tonggak munculnya gerakan PKK (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga). Masih menurut Tsabit, saat istri Gubernur Jawa Tengah Isriati Moenadi berkunjung ke Dieng pada tahun 1967, melihat banyak sekali penyakit busung lapar menjadikannya berinisiatif mendirikan gerakan PKK. “Ternyata gerakan tersebut sangat berhasil mengatasi busung lapar di jawa Tengah. Atas keberhasilan itu, presiden RI menganjurkan kepada menteri dalam Negeri Amir Machmud agar gerakan PKK dilaksanakan di seluruh daerah di Indonesia” jelas Tsabit.

dokumentasi tim ekspedisi Serayu bid. sosial budayaKini perekonomian yang ditopang oleh komoditas kentang mulai menurun. Bahkan kualitas alam pun setali tiga uang. Sehingga menurut mantan Kepala Desa Dieng Wetan Slamet Mustangin, jika masyarakat Dieng ingin kembali merasakan kejayaan ekonomi seperti saat awal kejayaan kentang, maka harus melakukan kembali evolusi komoditi. “Masyarakat Dieng semestinya menanam purwaceng, carica, terong belanda, eucalyptus, dan kacang babi (Dieng), karena harga kentang sekarang tidak menentu, selin itu juga sangat merusak lingkungan. Dengan menanam tanaman tersebut, saya yakin Dieng akan kembali makmur dan lingkungan pun akan kembali lestari” ujar Slamet.

Penurunan komoditas kentang di Dieng diperparah lagi oleh kebijakan pemerintah akan impor kentang, kentang yang semula memiliki harga sekitar sekitar Rp. 12.000/kg semenjak dilkakukanya impor kentang oleh pemerintah harga kentang saat ini tidak pernah mencapai angka Rp.10.000/kg. para petani  di Dieng berencana akan mengadakan demo jika diplomasi antara ketua paguyuban petani kentang Dieng dengan pemerintah tidak direspon. 

Dan dari berbagai permasalahan yang ada sepertinya komoditi Dieng akan terus berevolusi. Seiring tuntutan ekonomi warganya. evolusi tersebut memungkinkan menjadikan Dieng semakin maju di sektor ekonomi, dan alamnya lestari.  Narasumber: Heni Purwono (Ketua Tim Sosial Budaya, EKspedisi Serayu) Posted by Havid Adhitama

Rendeng Emas, Tanaman Penahan Longsor Gunung Pakuwaja

November 18, 2016 0
[Kawasan Pegunungan  Dieng. Dok. Tim Ekspedisi Serayu]

Dalam Ekspedisi Serayu, selain mengamati sungai Serayu, Tim Sosial Budaya juga melakukan pengamatan di wilayah-wilayah seputar Serayu mengalir beserta anak-anak sungainya. Salah satu hal menarik adalah di Dusun Kali Putih Desa Tieng Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo. Desa itu terlewati Kali Putih, yang muaranya ada di sungai Serayu. Di desa tersebut, berkembang kisah mitologis turun temurun dari nenek moyang, bahwa di Pegunungan Pakuwaja, kawasan hulu Kali Putih yang berada di atas dusun, terdapat tanaman Rendeng  Emas. 

Menurut salah satu warga Makinudin, kisah tersebut sudah turun temurun diwariskan oleh orang tua di Dusun Kali Putih. Menurut kisah tersebut, jika tanaman Rendeng Emas di pegunungan Pakuwaja sampai dicabut, maka Kali Putih akan meluap, dan bahkan Telaga Cebong di kawasan atas akan jebol. “Setelah kami renungkan, ternyata mungkin Rendeng Emas yang dimaksudkan adalah pepohonan yag ada di pegunungan Pakuwaja yang ada di atas dusun kami. Rendeng Emas dapat diartikan sebagai sesuatu yang sangat berharga. Rendeng memang tanaman endemik yang banyak ditemukan disini, dan di pegunungan pada umumnya” ujar Makinudin. 

[Tanaman Rendeng. Dok. Tim Ekspedisi Serayu]

Hal itu ternyata terbukti, tambah Makinudin, paling tidak sudah terjadi tiga kali banjir bandang di Kali Putih, yang menewaskan puluhan warga. Terakhir, pada tahun 2010 dinyatakan 11 warga kali Putih Desa Tieng tewas terbawa arus sungai. Bahkan beberapa mayat ditemukan terseret arus hingga ke Waduk Mrica di Kabupaten Banjarnegara.

“Masyarakat di sini memang dulu melakukan penebangan hutan di pegunungan Pakuwaja. Kini pegunungan itu telah gundul. Hal itu dilakukan karena memang mereka membutuhkan kayu bakar dan membuka lahan pertanian kentang” jelas Mukinudin. Sementara, tanah di pegunungan Pakuwaja adalah hak milik warga, sehingga saat ini sebagian besar tanah saat ini telah ditanami kentang. “Upaya penghijauan sudah beberapa kali dilakukan, tapi bagaimanapun warga tetap menanami pegunungan tersebut dengan kentang karena secara ekonomi hanya hal itu yang dapat dilakukan untuk menopang kehidupan mereka” tambah Makinudin.

[Makinudin, Tokoh Desa Kali Putih. Dok. Tim Ekspedisi Serayu]

Ia bahkan pesimis dengan kondisi lingkungan yang ada di kawasan Dieng. “Mungkin solusi ekstrimnya hanya ada tiga. Pertama, genosida warga kawasan Dieng. Kedua, bedol separuh warga kabupaten di kawasan Dieng. Ketiga, membeli semua tanah yang dimiliki warga di kawasan Dieng. Dan sepertinya ketiga hal itu tidak mungkin dapat dilakukan” keluh Makinudin.

Rendeng Emas Dusun Kali Putih di sebelah barat daya sebenarnya masih ada. Mewujud dari tanaman bambu yang memenuhi sepanjang tebing di atas dusun. Pepohonan bambu tersebut konon ditanami oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai green belt (sabuk hijau) perbukitan di atas Dusun Kali Putih. Warga tidak ada yang berani menebanginya hingga kini. Semoga Ronce Emas lainnya di pegunungan Pakuwaja tetap lestari, sehingga warga di Dusun Kali Putih tak lagi menanggung pagebluk akibat keganasan banjir bandang dari Kali Putih. Narasumber: Heni Purwono (Sejarawan Banjarnegara, Ketua Tim Sosbud Ekspedisi Serayu). Posted by Havid Adhitama

Wayang dari Kulit Manusia dan Gamelan Tertua di Hulu Serayu

November 05, 2016 0
Ada Wayang dari Kulit Manusia, Ada Pula Gamelan Tertua

[Mad Yamin membawa Wayang dari kulit Manusia, Dok. Ekspedisi Serayu. bid. Sosbud]

Lazimnya wayang, biasanya terbut dari kulit binatang, entah sapi maupun kambing. Namun tidak demikian yang ditemukan oleh Tim Expedisi serayu Bidang Sosial Budaya. Di Desa Jojogan Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo,  berhasil menemukan wayang yang konon salah satu bagiannya berasal dari kulit manusia. Si empunya wayang, Mad Yamin, mengungkapkan wayang tersebut merupakan warisan dari kakeknya, Mbah Glondong yang merupakan kepala desa yang cukup lama berkuasa di Jojogan. 

“Menurut sesepuh saya, wayang ini didapatkan dari bersemedi di Telaga Balekambang Dieng. Dengan wayang ini, sesepuh saya mampu menjadi dalang terbaik. Meskipun saya sendiri sampai saat ini tidak bisa mendalang” jelas Mad Yamin.

[Gamelan set tahun 1913 di kediaman Mad Yamin, Dok. Eks. Serayu bidang sosial budaya]


Tak hanya wayang aneh tersebut, Mad Yamin juga memamerkan koleksinya yang lain berupa tiga buah keris, serta perangkat gamelan berangka tahun 1913. Nama gamelan tersebut jelas terlihat “Tjadik rama bekel”. Seperangkat alat pewayangan tersebut, menurut Mad Yamin, juga didapatkan secara unik. “Dulu Mbah saya membeli gamelan tersebut dari orang Belanda di Dieng. Mbah saya membelinya dengan barter barang berupa bumbu ketumbar” tambah Mad Yamin.

Pada masanya, Dieng sempat mengalami beberapa kali perganitan komoditas pertanian. Selain ketumbar, dulu juga pernah berjaya pertanian bunga Pitrem/ Piretin, tembakau, kubis, hingga akhirnya kentang menggantikan itu semua sebagai komoditas utama.



["Tjadik Rama Bekel" Gamelan set berangka  1913. Dok. Tim Ekspedisi Serayu. bid Sosbud]

Sayangnya, beberapa koleksi benda kuno milik Mad Yamin kurang terawat, dan beberapa bahkan hilang. Salah satu pegiat budaya Desa Jojogan Bukhori bersama rekan-rekan pemuda berinisiatif untuk merawat benda-benda tersebut, terutama gamelan kuno. Menurut Bukhori, benda-benda dan tradisi budaya di desanya sangat perlu dilestarikan. “Kami memiliki mimpi untuk membuat semacam galeri atau museum mini di desa ini sebagai wadah benda-benda bersejarah. Pak Mad yamin bahkan sudah menyediakan tanah untuk dihibahkan. Kami berharap pemerintah atau pihak-pihak terkait dapat mendukung secara nyata keinginan baik kami” harap Bukhori. Narasumber: Heni Purwono (sejarawan Banjarnegara, Ketua Tim Sosbud Ekspedisi Serayu).  Posted by: Havid Adhitama

Peta Banjarnegara